Ironi Piring Makan, Menelisik Kesenjangan Sosial Antara Program MBG dan Nasib Guru Honorer

Berita, Nasional230 views

Kediri – SuryaDinamika.net  -Pengamat sosial dan Akademisi Mochamad Sinung Restendy mengisi diskusi hangat siaran udara Radio Andika,Jumat 23/1/26 malam.

Diskusi digelar, menyoroti kontradiksi yang kian nyata di lingkungan sekolah menyoal implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah jeritan ekonomi guru honorer yang gajinya sangat jauh dari kata sejahtera.

Sinung mengingatkan, bagaimana sebuah kebijakan nasional yang bertujuan baik kemudian menciptakan “kecemburuan struktural”jika tidak didukung oleh pembenahan Sumber Daya Manusia pengajarnya.

Terjadi disonansi ekonomi yang tajam di koridor sekolah secara sosiologis. Perut kenyang, isi dompet kosong.
Di satu sisi, negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk memastikan setiap siswa mendapatkan asupan nutrisi berkualitas. Namun di sisi lain, guru honorer yang mengawasi pembagian makanan itu acapkali harus menahan lapar seiring gajinya yang tidak mencukupi untuk membeli makanan dengan standar gizi yang sama.
“Sangat ironis, ketika kita melihat seorang guru honorer membagikan menu empat sehat lima sempurna untuk siswanya, sementara sang guru itu sendiri mungkin hanya mampu membeli mie instan atau nasi aking untuk dibawanya pulang ke rumah,” ujar Sinung menjawab pertanyaan moderator acara.

Poin Utama Kesenjangan Sosial – Ekonomi

Beberapa dampak krusial dari ketimpangan dirangkum Sinung , diantaranya :
• Degradasi Motivasi : Ketimpangan kesejahteraan dapat menurunkan wibawa guru di mata publik dan menurunkan moralitas kerja dalam jangka panjang.

• Paradoks Anggaran : Pemerintah dinilai lebih fokus pada investasi fisik (makanan) dibandingkan investasi pada aktor utama pendidikan (guru).

• Beban Psikologis :
Guru honorer kerap terjebak dalam survivorship bias, di mana mereka dituntut profesional namun kebutuhan dasar baginya tidak terpenuhi.

Sinung menekankan lampu kuning untuk Kebijakan Pendidikan.
Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) tidak seharusnya berdiri sendiri sebagai “proyek makan”. Ia mendesak pemerintah untuk menyelaraskan kesejahteraan guru honorer sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang sehat.
“Kita tidak bisa mengharapkan output pendidikan yang luar biasa dari siswa yang perutnya kenyang, jika ekonomi pengajarnya berada dalam kondisi kelaparan” pungkas Sinung. (Arif Muttaqin /M.S.Restendy )

Komentar