Cegah Kekerasan Seksual Ranah Daring, Kabupaten Blora Gelar Training KBGO – OCSEA Di Sekolah

Blora,|SDM| Yayasan Setara Klaten , tergabung pada United Nations Children Fund (UNICEF ) di aula Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Blora Jawa Tengah, menggelar Training Pencegahan dan Penanganan Awal Kekerasan Basis Gender dan Eksploitasi Seksual Anak Ranah Daring ( KBGO -OCSEA) Berbasis Sekolah, mengikutkan, perwakilan guru dan siswa, asal 11 sekolah wilayah setempat, Senin – Selasa (16-17/10/23).

Training digelar, guna mengingatkan semua pihak akan pentingnya dukungan dan komitmen bersama menyoal perlindungan anak.

Soal perlindungan anak, bukan hanya program lingkungan keluarga semata, namun terlebih, juga merupakan tanggung jawab serius pihak sekolah dan layanan publik terdekat

Terkait ini, Yayasan Setara, bekerjasama dengan UNICEF Indonesia, mendampingi 5 kabupaten/Kota di Jawa Tengah, membangun lingkungan aman dan ramah anak, salah satunya, di Kabupaten Blora, melalui program Online Children Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) menekankan internet dan medsos sehubungan potensi resiko seiring perkembangan usia anak.

Keterwakilan peserta, dilakukan berdasar kedekatan dengan 5 desa dampingan program OCSEA.

Kabupaten Blora bekerjasama dengan UNICEF sejak tahun 2019 untuk membangun Kabupaten Blora Ramah Anak.

Internet, bagi generasi digital native tak bisa dipisahkan dari pola hidup dan prilaku anak.
Di internet anak-anak mencari tahu tentang informasi, hiburan serta lainnya.
Sejumlah data menyebut, banyak anak pengguna internet dengan sengaja menyembunyikan usia aslinya, sehingga berpotensi menjadi korban eksploitasi, dan kekerasan seksual, di ranah daring.

Sekretaris Dinas P3A Kabupaten Blora, Widodo S.Pd., M.Pd menegaskan, penting untuk dilakukan proteksi kekerasan di media sosial.

Widodo menyebut, dengan masih adanya sekolah yang menganggap kasus bullying, kasus kekerasan, penyimpangan sosial anak sebagai hal tabu diketahui publik, hingga kemudian, kasusnya disembunyikan, dan atau diselesaikan, dengan caranya sendiri oleh lembaga, bahkan malah sengaja ditutup – tutupi.
Menurut Widodo, itu hal yang kurang tepat, sehingga penting karenanya dilakukan sosialisasi, pendampingan, bahkan layanan rujukan dalam menghadapi situasi tertentu”. tandasnya

Senada pernyataan Widodo, fasilitator Yayasan Setara Semarang, Hidayatus Sholihah, menegaskan, banyak tantangan dihadapi anak di dunia maya hingga berpotensi terjadinya kekerasan seksual di ranah daring terhadapnya.

” ini penting untuk kita cegah dan tangani secara bersama” tandas Hidayatus.

Hidayatus tegaskan, edukasi dan pengasuhan anak ranah online yang ramah dan aman penting terus ditingkatkan.
Sekolah, diharapkan dapat menstimulant dalam mengimplementasikan perlindungan anak, agar anak aman, serta terbebas dari kekerasan. ( pri / M. Sinung Restendy)