Pemilihan Ketua BPC HIPMI Karawang: Antara Panitia “Suci” dan Calon Ketua “Bersih” dari Segala Noda?*

_Oleh: Paing_

Ah, pemilihan Ketua HIPMI Karawang. Sebuah pesta demokrasi yang alih-alih meriah dan penuh semangat wirausaha muda, justru menyuguhkan drama yang lebih layak ditonton ketimbang sinetron jam _prime time._

Mulai dari panitia yang “katanya” sah sampai calon yang “konon” bersih, semua terasa seperti sandiwara yang sudah dipentaskan berulang kali—kita hanya menonton ulang dengan pemain berbeda.

Panitia pemilihan, misalnya. Mereka tampak begitu yakin akan legalitasnya, seolah-olah ditunjuk langsung oleh wahyu langit. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, proses pembentukan mereka pun dipenuhi tanda tanya. Tapi sudahlah, siapa kita ini—rakyat biasa yang berani mengusik “kesucian” panitia yang katanya netral itu?.

Lalu masuk ke panggung utama: sang calon ketua. Salah satu nama yang paling sering disebut, bahkan dielu-elukan, rupanya memiliki sejarah panjang—bukan dalam membangun usaha, tapi membangun reputasi hukum yang tak kalah “mengesankan”. Tapi entah kenapa, masa lalu yang kelam seolah sirna di hadapan syarat administratif yang, maaf, lebih longgar dari standar parkir liar di Karawang.

Cacat administrasi? Masih bisa ditoleransi dan diperbaiki. Tapi Kalau Pernah tersandung kasus hukum? Ah, itu hanya masa lalu. Dan seperti kata pepatah modern: “Yang penting sekarang punya relasi.” Kita memang hidup di zaman di mana integritas kalah telak dari kedekatan.

Administrasi bisa “diurus”, rekam jejak bisa “diluruskan”, asal tahu jalurnya.
Yang membuat heran, para anggota HIPMI seolah diajak untuk percaya bahwa semua ini normal. Bahwa seorang calon dengan catatan hukum bisa maju tanpa hambatan.

Bahwa panitia yang dipertanyakan legalitasnya tetap dianggap sah. Luar biasa. Kalau ini bukan simulasi realitas politik nasional dalam skala mikro, saya tidak tahu apa lagi.

Dan yang lebih menggelikan, ada yang menyebut bahwa ini bagian dari “dinamika organisasi”. Sejak kapan dinamika berarti membenarkan hal-hal yang cacat secara moral dan prosedural? Kalau begitu, korupsi pun bisa disebut dinamika keuangan, bukan?

Kita juga perlu mengapresiasi bagaimana panitia tampak begitu tenang menghadapi kritik. Bukannya transparansi, yang diberikan justru klarifikasi setengah hati, penuh jargon hukum dan retorika kosong.

Seolah-olah semua orang bodoh dan bisa disuruh percaya begitu saja. Salut, memang kemampuan aktingnya patut diacungi jempol.

HIPMI Karawang, yang seharusnya menjadi wadah pembinaan pengusaha muda, kini seperti berubah menjadi panggung karier politik instan. Lebih fokus pada siapa yang punya jaringan, bukan siapa yang punya gagasan. Lebih peduli pada siapa yang bisa melobi, bukan siapa yang bisa memimpin.

Apakah kita sudah lupa tujuan berdirinya HIPMI? Atau jangan-jangan memang sudah waktunya kita mengganti visi-misi menjadi: “Mencetak pengusaha muda yang pandai bersilat lidah dan berakrobat hukum.” Kalau begitu, saya rasa kita sudah berada di jalur yang sangat tepat.

Jangan salah, kritik ini bukan karena benci. Justru karena cinta. Cinta terhadap organisasi yang dulu menjadi rumah bagi pengusaha muda idealis. Bukan tempat mencari kekuasaan atau sekadar batu loncatan politik. Tapi ya, cinta kadang memang buta. Atau dibutakan.

Mungkin kita butuh calon yang tak sekadar lolos administrasi, tapi juga lolos dari catatan merah masa lalu. Mungkin kita butuh panitia yang bukan hanya sah secara kertas, tapi juga sah secara moral.

Tapi harapan seperti itu, tampaknya, kini terdengar seperti mimpi di siang bolong.
Dan jika akhirnya organisasi ini tetap memilih menutup mata demi kenyamanan sesaat, maka jangan heran jika beberapa tahun lagi HIPMI Karawang hanya akan jadi catatan kaki dalam sejarah. Dikenang bukan karena prestasi, melainkan karena kontroversi.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip pepatah lama yang sedikit dimodifikasi: “Di negeri yang kacau, orang salah bisa jadi pemimpin; asal punya cukup teman di panitia.” Selamat menonton drama berikutnya, kita semua tahu akhir ceritanya.*** (Ing)

*Tulisan ini di buat 46 Jam sebelum penetapan bakal calon ketua BPC HIPMI Karawang

Komentar