
NEGARA kita seperti mainan yang dinegosiasikan tanpa henti: “Atur, atur, atur saja.” Semua serasa mudah dan bisa diatur. Ada yang bilang, “Ke Indonesia saja, semuanya bisa cincaiii,” karena semuanya tampak beres asalkan ada kepentingan yang mengiringinya.
Dari pengurusan masalah kecil hingga perkara besar, suara Tarzan “Auoooo…” terus menggema. Begitu pula di tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga ke lingkaran oligarki gemuk, semuanya seragam meneriakkan hal yang sama. Bahkan, pagar yang seharusnya melindungi kini justru memakan tanaman. Tidak hanya itu, pagar pun mulai melahap lautan. Subhanallah, betapa rakusnya.
Semua ini sejatinya telah tertulis dalam kitab suci Al-Quran. Allah telah memperingatkan manusia dalam Surat At-Takatsur: “Hatta zurtumul maqabir” — hingga kalian sibuk berlomba-lomba, bahkan membawa kerakusan itu ke tanah kuburan. Naudzubillahi min dzalik.
Mengapa kita begitu sulit keluar dari jerat ini? Sungguh, hanya keimanan yang dapat menjadi benteng. Ketakutan kepada Allah adalah satu-satunya solusi untuk menghentikan suara Tarzan “Auoooo” yang menggema di setiap sudut negeri ini.
Namun, perubahan itu tidak akan datang tanpa upaya nyata. Kita harus berani memulai dari diri sendiri: mengikis keserakahan, meninggalkan praktik culas, dan menanamkan integritas sebagai pondasi dalam kehidupan. Sebab, tanpa kesadaran kolektif untuk berubah, teriakan Tarzan ini akan terus menggema, meninggalkan negeri kita dalam jurang kehancuran moral.
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua untuk menjalani kehidupan yang lebih lurus, jujur, dan penuh keimanan. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin. (*)












Komentar