
Karawang – SURYA DINAMIKA.NET –Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dinilai tidak serius dalam menjaga aset pengairan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Kondisi saluran irigasi dipenuhi lumpur, sampah, dan eceng gondok diperparah dengan jebolnya tanggul saluran sekunder Pondok Barat di Desa Karyamukti, Kecamatan Lemah Abang Wadas, yang tak kunjung diperbaiki.
Masyarakat setempat menyebut, kerusakan tanggul sepanjang lebih dari 300 meter itu terjadi sejak lebih dari lima tahun lalu, dan hingga kini dibiarkan tanpa ada penanganan permanen serius. Akibatnya, aliran air terbuang percuma ke saluran pembuang dan tidak mengaliri lahan pertanian.
Dampak serius dirasakan petani di Desa Pulosari dan Ciwulan, Kecamatan Telagasari. Sedikitnya 500 hektar sawah setempat mengalami kekeringan, menyebabkan gagal panen dan menghentikan siklus tanam padi, termasuk varietas unggulan Ciherang.
Kepala Pelaksana ( Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Usep Supriatna, mengaku pihaknya telah melayangkan surat kepada BBWS terkait persoalan tersebut. Namun hingga kini belum ada tanggapan.
āKami sudah bersurat kepada BBWS, namun sampai sekarang belum ada jawaban,ā kata Usep saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026).
Warga Telagasari, Dadan Novian Heryana, mengecam lambannya penanganan dari BBWS dan Perusahaan Jasa Tirta (PJT) II. Ia menilai kerugian yang ditimbulkan tidak kecil.
āandaikan satu hektar sawah itu bisa menghasilkan 4 ton gabah kering, maka dari 500 hektar potensi produksi akan mencapai 2.000 ton gabah atau setara 1.000 ton beras setelahnya melalui proses. Ini seharusnya bisa menopang ketahanan pangan masyarakat,ā ujar Dadan.
Sementara itu, ketika Surya Dinamika.net mencoba mengkonfirmasi soal ini kepada Rohman, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Karawang melalui saluran nomor ponselnya, ia tidak merespons, nada panggil handphonenya dalam posisi offline.
Kekecewaan juga disampaikan Kepala Desa Pulosari, H. Kana. Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan itu ke sejumlah pihak terkait, termasuk BBWS, PJT II, hingga wakil rakyat di tingkat pusat serta provinsi. Namun, upaya tersebut menurutnya tidak membuahkan hasil.
āSudah kami sampaikan ke berbagai instansi, tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,ā ujar H.Kana kecewa.
Menurutnya, kondisi ini membuat petani kesulitan meningkatkan produktivitas. āJangankan tiga kali tanam setahun, dua kali saja tidak bisa, sedangkan negara menuntut kita untuk swasembada berasā sambungnya.
Sebagai solusi darurat, Pemerintah Desa Pulosari dan Desa Ciwulan berkolaborasi dengan Institut Teknologi PLN Jakarta membangun instalasi pompa air bertenaga surya.
Desa Pulosari mengalokasikan anggaran Rp158 juta, sementara Desa Ciwulan Rp150 juta, dengan tambahan rencana anggaran Rp100 juta untuk kebutuhan distribusi air.
āDengan pompa tenaga surya, petani tak perlu membayar listrik,ākata H. Kana.
Selain itu, bantuan instalasi pompa air berbasis listrik PLN juga telah diberikan oleh dinas terkait. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi persoalan utama, yakni rusaknya infrastruktur irigasi yang menjadi kewenangan BBWS.
” Kita penerima manfaat, pengadaannya dari dinas terkait, kata H. Kana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak BBWS terkait lambannya penanganan tanggul jebol tersebut.(Pri)

















Komentar