Pasutri Kacung – Ny.Acih, Korban Rumah Disambar Petir Minta Pemerintah Karawang Peduli Kemanusiaan

Pasutri Kacung – Ny.Acih tengah menceriterakan peristiwa naas menimpa keluarganya

Karawang ,|SDM|Sembilan hari pasca ledakan petir terjadi di rumahnya, pasutri keluarga miskin, warga dusun Kedung Mundu RT.10 RW.03 Desa Kuta Karya Kecamatan Kutawaluya, Kacung dan Ny.Acih serta anak-anaknya mengaku masih trauma dan tengah dibingungkan oleh keadaan hidupnya.

Pemerintah desa Kutakarya hingga Pemkab Karawang hingga saat ini belum memberikan bantuan untuk perbaikan rumahnya.

Kacung menceriterakan, peristiwa naas menimpa keluarganya itu terjadi hari Jum,at siang 5 April 2024 sekira pukul 14.00 WIB.

Dikatakannya , dihari naas bagi keluarganya itu, cuaca ketika itu mendung, Kacung tiduran di tengah rumahnya, sementara Ny.Acih (istrinya) tengah mencuci beras untuk persiapan membuat nasi uduk yang akan dijualnya seusai waktu sholat maghrib di pasar Proklamasi Rengasdengklok. Dan anak perempuannya “Lala” nampak lelap tertidur di kamar sederhananya.

Sesaat kemudian, tiba- tiba Kacung mendengar suara ledakan yang sangat keras sekali dari arah kamar anaknya. Kacung pun lalu bangkit dari tidurannya dan beranjak menuju kamar anaknya. Setiba di depan kamar anaknya Kacung mengaku kaget bahkan shock, manakala tampak olehnya, genteng rumahnya ambruk berantakan.
Pula daun pintu kamar anaknya yang terbuat dari kayu, pecah menjadi dua bagian.
Kondisi itu diperparah dengan dinding tembok rumah Kacung yang nampak bolong bagai bekas dihantam martil besar.

” anak saya Lala tidur lelap, dia tak tahu, jika di kamarnya terjadi fenomena alam sesaat yang sangat ekstrim dan mengancam jiwanya, jelas Kacung kepada Surya Dinamika net,Sabtu(13/4/2024) sore.

” Lala, baru terbangun dari tidurnya manakala dia merasa ada serpihan genteng dan terpal plastik yang menjadi atap kamarnya ambruk dan menimpa badannya, kata Kacung kemudian.

Dikonfirmasi soal ini via sambungan nomor What Apps nya, Kepala Pelaksana ( Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah( BPBD) mengaku, untuk kepentingan assessment pihaknya akan mengirimkan anggotanya ke lokasi peristiwa,katanya.

” kin aya petugas abdi ka lokasi untuk assessment ( nanti ada petugas saya ke lokasi untuk assessment , butuhnya apa, masalahnya apa, tulis Mahfudin dalam Chatt WA nya.

Sementara Kacung dan Ny.Acih mengaku, sejak peristiwa naas terjadi menimpa hidupnya, dia telah kehilangan modal untuk kelanjutan usaha jualan nasi uduknya.

” modal saya jualan nasi uduk hanya pas-pasan, dari keuntungan didapat, hanya bisa untuk makan keluarga dengan lauk yang seadanya.
Ketika peristiwa naas dihari itu menimpa kami, beras yang telah dicuci oleh istri saya dan sedianya itu akan dijadikan nasi uduk untuk dijual di pasar Proklamasi, jadi batal untuk kami olah menjadi nasi uduk.
Sekarang, kami tak lagi ada modal usaha, bahkan untuk makan keluarga, kami dibantu oleh tetangga yang iba melihat musibah menimpa hidup kami, pungkas Kacung dalam dialek bahasa sunda, kemudian diamini oleh Ny.Acih istrinya.

Pantauan SuryaDinamika.net dari lokasi peristiwa mencatat, serpihan genteng yang manakala peristiwa itu terjadi nampak amburadul berserakan dilantai sesaat setelah dihantam bola petir, kini keadaannya sudah dibersihkan oleh pemilik rumah.
Di bagian pojok dinding rumah, nampak terjadi pecah, tembok itupun rawan ambruk hingga dikhawatirkan sewaktu-waktu rentan roboh dan mengancam keselamatan penghuni.

Pula dengan meteran pencatat pulsa KWH listrik yang nampak rusak gosong dan telah digunting dari kedudukannya semula pada dinding rumah.

Kacung mengaku, KWH meter listrik itu digunting oleh petugas PLN Rengasdengklok, katanya.

” sekarang di rumah kami tak lagi ada aliran setrum. Untuk penerangan rumah, kami dibantu oleh tetangga yang iba dengan penderitaan hidup tengah kami hadapi.
Entah sampai kapan, kami harus hidup begini. Semoga pemerintah Kabupaten Karawang dan PLN memiliki nurani kemanusiaan, memiliki perasaan iba, memiliki rasa peduli ,atas penderitaan menimpa keluarga ini, pungkas Kacung.( pri )

Komentar