Karawang, Suryadinamika – KPU Kabupaten Karawang bekerjasama dengan tvberitakarawang.co.id, Taktik.co.id dan @prasastijabar.co.id menggelar “Diskusi Utak Atik Pilkada Karawang Tahun 2024 di Swiss – Bellin Hotel Karawang, Sabtu (13/07/2024) siang.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi ini, mantan Bupati Karawang Ade Swara, mantan Bupati Karawang dua periode, Cellica Nurachadiana, mantan Wakil Bupati Karawang Jimmy Ahmad Zamakhsari, mantan anggota DPRD Karawang Karawang Sony Hersona GW dan akademisi Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) Eka Yusuf.
Komisioner KPU Karawang, Putra Muhammad Wifdi Kamal menyebut pentingnya partisipasi aktif masyarakat pemilih di hari Pilkada Karawang 27 Nopember 2024 mendatang.
Berguru dari hasil Pilkada Karawang sebelumnya, sebut Putra, angka partisipasi masyarakat pemilih pilkada tahun 2010 berada di posisi 62 persen. Kemudian digelaran Pilkada Karawang tahun 2015 angka partisipasi masyarakat pemilih meningkat menjadi 67 persen. Dan di Pilkada Karawang tahun 2020, angka partisipasi masyarakat pemilih naik lagi menjadi 70 persen.
Putra menyebut, besaran angka partisipasi masyarakat pemilih itu jauh beda saat gelar Pilkada Karawang tahun 2004 silam. Data KPU Karawang mencatat angka partisipasi masyarakat pemilih pada Pilkada Karawang tahun 2004 ada di posisi 83 persen.
Terkait ini KPU Karawang berkiat, melalui gelar diskusi dan sosialisasi menggandeng mitra kerjanya, pada Pilkada Karawang tanggal 27 Nopember 2024 mendatang pihaknya optimis akan tercapai target 80 persen angka partisipasi masyarakat pemilih Karawang.
KPU Karawang di waktu dekat akan menyosialisasikan kaitan dengan pencalonan. Sebagai konsekuensi pemilu tahun 2024 hanya ada delapan partai pengusung, katanya.
KPU Karawang menyebut, konsekuensi dari 50 persen anggota DPRD hasil pemilu legislatif tahun 2024 hanya diisi delapan partai politik. Karenanya hanya kedelapan partai politik itulah yang bisa melakukan pengusulan bakal calon Kepala Daerah Kabupaten Karawang.
“Sementara untuk partai-partai yang tidak mendapatkan kursi legislatif, terhadapnya hanya bisa ikut menjadi sebagai partai pendukung pengusung bakal calon kepala daerah, namun bukan menjadi pengusung calon kepala daerah,” jelas Putra, seraya berpesan kepada para bakal calon kepala daerah agar segera melengkapi kaitan visi misi yang sinergis dengan rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) Kabupaten Karawang.
Melalui diskusi, sejumlah pesan moral disampaikan nara sumber berdasar pengalaman dan kemampuan managerial birokrasinya. Mantan Bupati Karawang Ade Swara menegaskan pilkada demokratis akan berkualitas jika tingkat partisipasi pemilih antusias. Menurutnya, potensi ormas memiliki potensi dominan dalam peran sertanya membangun masyarakat.
Parameter keberhasilan penyelenggaraan pilkada, jika terciptakannya situasi aman, tertib dan lancar tanpa ekses dengan tingkat partisipasi pemilih antuasias sesuai target KPU.
Menyambung ungkapan Ade Swara, mantan Bupati Karawang dua periode Cellica Nurachadiana mengakui, bahwa nama besarnya di kancah perpolitikan dan birokrasi itu karena popularitas dari pengusaha ternama Ade Swara yang pada Pilkada Karawang tahun 2010 menggandeng dirinya sebagai calon Bupati.
“Politik itu dinamis, namun penting dilandasi tanggung jawab dan adab yang santun. Karawang ini memiliki karakteristik berbeda dan niat kita ingin menjadi pemimpin Karawang ini, tujuannya mau ngapain?,” kata Cellica.
Senada ungkapan Ade Swara dan Cellica, Sony Hersona GW, berujar, penyelenggara pilkada penting mewaspadai persoalan money politik yang berpotensi mengacaukan sendi demokrasi event pemilu seiring guliran isue krisis politik identitas.
Sony Hersona tegaskan, mahasiswa adalah generasi agen perubahan. Menurut ia, pentingnya ditekankan soal integritas dalam perjuangan merubah kultur masyarakat pemilih.
“Jangan pernah berhenti untuk berjuang, masa depan bangsa ini ada di tangan kalian,” tandas Sony.
Beda pendapat dengan pandangan politik Sony Hersona, dengan tampilan sikap khasnya, mantan wakil Bupati Karawang Jimmy Ahmad Zamakhsari menyebut, jika kemenangan angka pilkada itu menurutnya adalah tak bisa lepas dari persoalan kekuatan duit bakal calon pemimpin daerah itu sendiri sebagai konsekuensi biaya operasional kampanye di dalam mencari pengakuan politik publik.
“Untuk menang angka pilkada tidak cukup hanya karena popularitas dan elektabilitas saja, namun yang lebih menentukan adalah isi tas dan angka duit,” seloroh Jimmy.
Sementara akademisi Unsika Eka Yusuf MI, berujar menyikapi waktu pilkada Karawang yang hanya tinggal 136 hari kedepan dan hingga hari ini belum nampak kandidat pasti yang bakal tampil menjadi bakal calon Bupati Karawang usungan partai politik.
Eka menyebut soal ini perlunya dilakukan sikap aktif partai koalisi mengacu popularitas dan elektabilitas bakal calon yang akan diusung.
“Namun elektabilitas dan popularitas seseorang belum pasti akan menjadi pilihan terbaik dari partai politik pengusung bakal calon pemimpin daerah, karena masing- masing parpol itu beda visi-misi dan tujuannya,” Eka.
Gelar Diskusi Utak Atik Pilkada Tahun 2024 KPU Karawang ini, diinisiasi mitra kerja KPU Karawang dari media online PRAJA, TAKTIK dan TV BERITA. (Pri)



















Komentar