Siapa Penemu dan Perawat Pertama Maqom Pulo Bata ? (Bagian Pertama)

Foto: @rindumesjid

Pulo Bata, sebuah tempat atau lokasi yang oleh sebagian masyarakat dianggap memiliki tuah tersendiri yang bisa memberikan sesuatu dalam memenuhi keinginan atau harapan. Soal jodoh, kepangkatan, kedudukan, bahkan rejeki.

Banyak orang mendatangi tempat tersebut, untuk berziarah, sembari berkhidmat, baca doa, mantra, hingga baca ayat. Terlebih pada malam Sabtu. Saat yang diyakini memiliki kekuatan lebih, untuk memanjatkan doa, agar tercapai apa yang dimaksud.

Malam Sabtu, dimana pengunjung melewatkanĀ  malamĀ  denganĀ  tidak tidur, melainkan membaca doa dan “sholawat” , menjadi icon tersendiri bagi Pulo Bata dengan nama SAPTUAN.

Pulo Bata, terletak di wilayah Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang Jawa Barat. Tempat itu, memiliki alur sejarah, yang menyebutkan bahwa dimasa lalu, tempat itu pernah dijadikan tempat persinggahan seorang ulama yang berasal dari Cirebon, mendirikan pondok pesantren dan melakukan dakwah. Ulama dimaksud dikenal dengan nama Syeh Quro.

Syekh Quro Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama dari Campa. Beliau adalah putra Ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik. Beliau masih ada garis keturunan dari Syekh Jumadil Kubro dan kakeknya Syekh Jalaluddin, seorang ulama dari Mekkah. Dari garis nasab ibunya yang bernama Dyah Kirana.
Beliau juga mempunyai nama lain yaitu

  1. Syekh Qurotul Ain
  2. Syekh Hasanudin
  3. Syekh Mursahadatillah

Beliau menikah dengan Putri dari Ki Gedeng Karawang, dan dikaruniai putra, Syekh Akhmad.

Syech Quro meninggal dunia dan dimakamkan di Pulo Bata, Desa Pulo Kalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat.(bersambung)