Jejak Pemberdayaan Mahasiswa PMI di Kampus UIN Suka

Jogyakarta, SURYADINAMIKA.NET Pagi itu, Kamis (11/6/2026), aroma gurih onde-onde menguar di selasar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Bukan dari warung, melainkan dari stan pameran mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) yang hari itu memajang buah kerja mereka bersama 15 mitra di seluruh penjuru Yogyakarta.

Kegiatan bertajuk Diseminasi Hasil Praktik Pengembangan Masyarakat itu berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, dan menjadi puncak dari dua mata kuliah yang berjalan beriringan: Expo Pemberdayaan Masyarakat dan Teknik Dokumentasi. Selasar kampus yang biasanya hanya dilewati berubah menjadi ruang pamer gagasan — penuh poster, buku saku, dan produk-produk lokal yang lahir dari tangan warga dampingan.

Di salah satu sudut stan, sepiring onde-onde bulat berukuran seragam tersusun rapi. Di balik kesederhanaan jajanan itu tersimpan cerita tentang Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur di Lendah, Kulon Progo, yang selama ini berjibaku dengan proses produksi manual yang lambat dan tidak konsisten. Mahasiswa Kelompok CSR 21 melihat masalah itu, dan mereka memilih bukan sekadar mencatat, tetapi mencari solusinya.
Zakia, perwakilan kelompok tersebut, menjelaskan bahwa inovasi lahir dari pengamatan langsung terhadap keseharian para ibu KWT di lapangan.
“Alasan inovasi alat adalah melihat produksi yang masih tradisional yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT, khususnya pada produk onde-onde yang memakan waktu cukup lama dan kurang efektif dalam proses produksi,” kata Zakia.

Alat pencetak onde-onde berbahan tepung mokaf yang mereka rancang terbilang sederhana: adonan dimasukkan, ditekan, dan keluarlah bentuk yang seragam sebelum ditaburi wijen dan digoreng. Namun dampaknya tidak sederhana. Kecepatan produksi meningkat, dan permintaan pasar pun mulai naik.
“Alhamdulillah dengan adanya alat ini, kami mendapatkan tambahan ataupun kenaikan permintaan pasar mulai dari produk onde-onde dan produk lainnya,” ungkap Zakia.

Semangat yang sama mengalir di stan-stan lainnya, meski dengan wajah yang berbeda. Tidak jauh dari aroma onde-onde, terpajang sebuah buku bersampul hijau berjudul “Rupiah dari Sampah, Pahala dari Bumi”—karya mahasiswa yang mendampingi bank sampah di PKH Gedongtengen. Buku itu memuat prinsip ekoteologi: keyakinan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan, bukan sekadar urusan lingkungan semata. Seelain itu ada buku lain berjudul Sampah, Spritualitas, dan Gerakan Komunitas: Praktik Ekoteologi di Tilaman, Booklet Ekoteologi Lingkungan dan Literasi Keuangan Hijau, poster Aksi Hijau Kampus,Poster kesetaraan gender serta produk cetak yang lainnya.

Dari inovasi alat produksi pangan hingga literasi lingkungan, satu benang merah tampak menghubungkan seluruh stand: pemberdayaan yang bermakna adalah pemberdayaan yang meninggalkan jejak—baik pada produktivitas warga, pada kesadaran menjaga bumi, maupun pada lembaran-lembaran dokumentasi yang kelak bisa dibaca generasi berikutnya.

Hingga tengah hari, diskusi antara mahasiswa, pengunjung, dan perwakilan lembaga mitra masih mengalir di selasar kampus. Zakia menutup perbincangan dengan harapan yang sederhana namun berbobot.
“Semoga kita juga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan juga lingkungan sekitar kita,” tutur Zakia.

Khabiburahman 

Komentar