Mahasiswa PMI UIN Suka Terapkan Ekoteologi Langsung di Masyarakat

Yogyakarta, SURYADINAMIKA.NET– Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Diseminasi Hasil Praktik Pengembangan Masyarakat di selasar fakultas, Kamis (11/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB itu menampilkan hasil kerja nyata 15 kelompok mahasiswa yang selama dua semester turun langsung ke berbagai lembaga mitra di Yogyakarta dan sekitarnya.

Para mahasiswa mempraktikkan konsep ekoteologi—sebuah pendekatan pemberdayaan yang memadukan kesadaran menjaga lingkungan hidup dengan nilai-nilai keislaman—di sejumlah lokasi yang beragam, mulai dari program CSR Pertamina Rewulu, Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Yogyakarta, Desa Inklusi Wukirsari, hingga kawasan Gold Trash di Kulon Progo. Hasil kerja tersebut tidak hanya dipamerkan dalam bentuk poster dan produk, tetapi juga didokumentasikan dalam 15 judul buku yang ditulis langsung oleh mahasiswa.

Ketua Program Studi PMI, Siti Aminah, M.Si., menyebut diseminasi ini sebagai puncak dari integrasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) yang selama ini diterapkan di program studinya. Berbagai mata kuliah semester enam dirancang saling berkelindan, dan praktik lapangan menjadi muara dari seluruh proses pembelajaran tersebut.

“Berbagai macam mata kuliah itu tidak berdiri sendiri. Harus ada kesinambungan, keterkaitan bagaimana mata kuliah di semester enam ini menjadi satu ‘gong’ dari prodi,” kata Aminah.

Ia juga menegaskan bahwa buku-buku yang dihasilkan mahasiswa merupakan wujud konkret dari misi Asta Protas Kementerian Agama dalam pelestarian lingkungan. “Buku-buku ini berisi praktik ekoteologi di lokasi praktikum. Ini sejalan dengan misi Asta Protas Kementerian Agama dalam menjaga lingkungan, seperti judul buku Rupiah dari Sampah, Pahala dari Bumi dan Hijaukan Bumi, Hidupkan Kepedulian, ” ucap Aminah.

Selain peluncuran buku, pameran ini menampilkan berbagai poster edukasi terkait akses kesetaraan gender dan dokumentasi program lingkungan seperti Gold Trash di Kulon Progo.

Kegiatan ini juga menjadi forum refleksi bagi para dosen. Abu Suud, dosen senior yang baru saja memasuki masa purnatugas, menekankan bahwa pengalaman lapangan merupakan modal sosial yang tidak tergantikan oleh perkuliahan di dalam kelas semata.
“Itu pengalaman kecil, tapi kesannya sangat besar. Menjadi modal untuk berinteraksi dengan orang lain, bekerja lintas prodi, dan dituntut bertanggung jawab secara akademik maupun moral,” tutur Abu Suud.

Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Muhsin, menambahkan dimensi literasi dalam pesan yang ia sampaikan. Mengutip semangat alladzi ‘allama bil qalam—Tuhan yang mengajarkan dengan pena—ia mengingatkan bahwa seorang penggerak masyarakat yang sesungguhnya tidak cukup hanya bertindak, tetapi juga harus mampu menuliskan apa yang telah dilakukan. Ia mencontohkan bagaimana kawasan aliran Sungai Gajah Wong yang kini tertata rapi merupakan buah dari konsistensi riset dan aksi sivitas PMI selama bertahun-tahun.
“Anda tidak hanya bisa mengimami tahlil di tempat praktik atau menggerakkan masyarakat, tetapi pulang harus punya ilmu yang ditulis. Warisan yang paling dahsyat dari akademisi adalah karya tulis,” kata Muhsin.

Khabiburahman

Komentar