Karawang Diserbu Massa, Kirab Mahkota Binokasih Tegaskan Kebangkitan Sejarah Sunda dan Masa Depan Jawa Barat

Ini bukan sekadar karnaval. Ini momentum membangunkan kembali ruh sejarah, jati diri, dan harga diri masyarakat Sunda

Karawang – SURYADINAMIKA.NET Kabupaten Karawang berubah menjadi lautan manusia saat Kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjadjaran, Mahkota Binokasih memasuki hari ketujuh dengan tema “Subang Larang Nebar Kaheman”, Sabtu malam 9/5/2026.

Ribuan warga tumpah ruah memenuhi jalan-jalan utama kota hanya untuk menyaksikan langsung Mahkota Binokasih Keraton Sumedang Larang, simbol kejayaan Padjadjaran yang selama ini hanya hidup dalam catatan sejarah dan cerita rakyat Sunda.

Selepas waktu magrib, masyarakat Karawang sudah memadati kawasan jalur kirab. Antusiasme warga tak terbendung. Mereka rela berdesakan, menunggu berjam-jam, bahkan mengular di sepanjang jalan demi melihat pusaka yang diyakini menjadi lambang kesinambungan sejarah dan kehormatan tanah Pasundan.

Mahkota Binokasih tiba di Kantor Pemda Karawang Sabtu siang dan diterima langsung oleh Bupati Karawang Aep Syaepuloh

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi , Bupati Karawang Aep Syaepuloh dan Wakil Bupati Karawang H.Maslani dalam kegiatan Kirab Milangkala Tatar Sunda Mahkota Binokasih

Malam harinya sekitar pukul 19.30 WIB, mahkota pusaka itu diarak menggunakan kereta kencana melintasi Jalan Arief Rahman Hakim, Jalan H. Djuanda, Jalan Tuparev hingga terpusat di kawasan Alun-alun Karawang dekat Masjid Agung Syekh Quro.

Kirab tersebut bukan sekadar parade budaya. Karawang malam ini menjadi panggung besar pengingat sejarah penting tanah Sunda, pernikahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang di pesantren Syekh Quro sekitar tahun 1422 Masehi.

Peristiwa itu diyakini menjadi titik awal masuk dan berkembangnya Islam di lingkungan Kerajaan Padjadjaran yang saat itu bercorak Hindu.

Dari rahim Nyai Subang Larang lahir tokoh-tokoh besar Sunda seperti Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang, dan Raden Kian Santang yang kemudian mengubah arah sejarah tatar Pasundan hingga lahirnya Kesultanan Cirebon.

Di hadapan ribuan warga yang memadati sekitar alun-alun Karawang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Kirab Padjadjaran bukan agenda seremonial kosong atau hiburan budaya sesaat.

“Ini bukan sekadar karnaval. Ini momentum membangunkan kembali ruh sejarah, jati diri, dan harga diri masyarakat Sunda,” tegas Dedi disambut sorak massa.

Dedi menyebut kehadiran Mahkota Binokasih di Karawang menjadi simbol “mulangkeun rasa ka cinta, mulangkeun rasa ka asih”, menghidupkan kembali nilai kasih sayang, persatuan, dan identitas budaya Sunda yang lama terkubur oleh modernisasi tanpa arah.

Tak berhenti pada romantisme sejarah, Dedi langsung mengumumkan agenda besar Pemprov Jawa Barat.

Pada 2027 mendatang, kawasan Jalan Arief Rahman Hakim hingga Alun-alun dan Masjid Agung Syekh Quro akan disulap menjadi “Pelataran Cinta”, kawasan kota tua Karawang yang ditata total. Penataan meliputi pembangunan pedestrian modern, penerangan jalan, penertiban kabel semrawut, hingga penyeragaman tampilan bangunan agar Karawang memiliki wajah kota bersejarah yang layak dan berkelas.

Dedi Mulyadi juga menyinggung berbagai persoalan krusial Jawa Barat yang selama ini dinilai dibiarkan berlarut-larut, mulai dari sampah, kerusakan lingkungan, semrawutnya kabel listrik, hingga kondisi Sungai Citarum.

Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi secara terbuka memuji langkah cepat Pemkab Karawang memperbaiki jalan rusak di akses gerbang Tol Karawang Barat dan Karawang Timur yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Menurutnya, kerusakan jalan itu sebenarnya tanggung jawab pemerintah pusat. Namun karena menyangkut keselamatan rakyat, Pemkab Karawang memilih bertindak tanpa banyak alasan dan birokrasi.

“Jangan tunggu rakyat jadi korban. Jalannya dikerjakan Pemkab Karawang, jembatannya oleh Pemprov Jabar,” tegas Dedi.

Ia juga meminta maaf kepada masyarakat yang aktivitas ekonominya terganggu selama kirab berlangsung. Namun menurutnya, agenda budaya sebesar itu penting untuk membangun kembali kebanggaan masyarakat terhadap sejarah dan daerahnya sendiri.

Di akhir sambutannya, Dedi Mulyadi menyerukan agar masyarakat Karawang tidak hanya menjadi penonton di daerah industri sendiri, tetapi harus menjadi tuan rumah yang berdaulat secara ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.

“Orang Karawang harus jadi manager di pabriknya sendiri, harus jadi tuan di lemburna sorangan,” tandasnya.

Kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjadjaran ,Mahkota Binokasih ,Sabtu malam ditutup dengan pertunjukan tarian budaya dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang semakin menegaskan bahwa Karawang bukan hanya kawasan industri, melainkan salah satu simpul penting sejarah besar tanah Sunda.(Pri)

Komentar