Mentan Amran Tegas di Karawang Stok Beras Nasional 5,1 Juta Ton, Pelanggar HET Akan Ditindak

Berita, Pertanian37 views
Menteri Pertanian RI Amran Sulaeman bersama Dirut Bulog Ahmad Rizal Rhamdani

 

Karawang – SURYA DINAMIKA.NET

Menteri Pertanian RI, Amran Sulaeman, menegaskan posisi ketahanan pangan nasional dalam kondisi kuat. Hal ini diungkapkannya saat melakukan inspeksi ke gudang Bulog di kawasan pergudangan Genesis, Kelurahan Tunggak Jati, Kecamatan Karawang Barat, Kamis pagi (23/4/2026).

Di hadapan wartawan, Amran menyampaikan, stok beras nasional yang tersimpan di seluruh gudang Bulog wilayah Indonesia mencapai 5.198.000 ton. Ia memastikan, angka tersebut valid, terukur, dan dapat diuji publik.

“Ini capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Tidak pernah terjadi sebelumnya,” tegas Amran.

Ia menolak keras keraguan terhadap data tersebut. Menurutnya, jajaran direksi Bulog tidak mungkin memalsukan data karena konsekuensi hukumnya jelas.
“Silakan cek langsung di lapangan. Nilai beras ini setara Rp55 sampai Rp60 triliun. Tidak mungkin main-main,” ujarnya.

Gudang Bulog Karawang yang ditinjau merupakan fasilitas sewa dengan kapasitas 102.000 ton. Saat ini terisi 80.000 ton dan dipastikan terus bertambah dalam dua pekan ke depan, seiring target nasional cadangan beras menembus 6 juta ton.

Dalam kesempatan itu, Amran mengeluarkan peringatan keras kepada pedagang beras agar tidak menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan mentolerir permainan harga di tengah stok yang melimpah.
“Jangan ada lagi alasan stok kurang. Yang melanggar HET akan ditindak, ” katanya.

Amran juga mengungkap langkah penegakan hukum yang sudah berjalan. Sebanyak 76 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait pelanggaran distribusi dan harga pangan. Selain itu, 27 kasus pupuk palsu berhasil diungkap dengan total kerugian petani mencapai Rp3,3 triliun.

Di era Presiden Prabowo Subiyanto, lanjutnya, kebijakan pangan mulai menunjukkan hasil konkret. Harga pupuk turun hingga 20 persen dalam delapan bulan terakhir. Melalui Inpres Nomor 6 Tahun 2025, pemerintah juga menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk menjaga kesejahteraan petani dan stabilitas harga.

Amran memastikan Indonesia tidak melakukan impor beras sepanjang 2025 dan optimistis hal tersebut berlanjut pada 2026. Padahal sebelumnya, pada 2023 – 2024, impor beras dan jagung mencapai 7 juta ton dengan nilai Rp100 triliun.

“Sekarang kita surplus. Produksi 73 juta ton, kebutuhan 68 juta ton,” tegasnya. Meski masih ada ketergantungan impor pada komoditas tertentu seperti kedelai, daging, dan bawang putih, total impor pangan Indonesia disebut hanya berada di kisaran 4,9 persen.

Menghadapi potensi El Nino, Amran memastikan, stok beras nasional dalam kondisi aman. Cadangan saat ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 15 bulan ke depan.
“Dalam kondisi kering pun kita tetap produksi. Sistem irigasi dan pompanisasi sudah berjalan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan perlindungan lahan pertanian tidak bisa ditawar. Alih fungsi lahan dilarang keras sesuai Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009.

Menutup pernyataannya, Amran menegaskan bahwa beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir, sekaligus kembali mengingatkan pelaku usaha untuk tidak bermain harga.

“Kalau dulu beras jadi penyumbang inflasi, sekarang tidak. Jadi tidak ada alasan untuk menaikkan harga. HET wajib dipatuhi,” pungkasnya.  (Pri)

Komentar