Oleh ; Drs Farid Maruf, MA
Karawang, 08/07/2022
Nama “medaeng” sudah sejak lama mengesankan seram di hati penulis, setidaknya sejak masih menjadi orang yang sering bekerjasama dengan para aktipis perlindungan anak.
Para predator pelaku kejahatan seksual sering direkam keluhannya oleh kawan kawan aktifis sebagai lembaga pemasyarakatan yang membuat para warga binaannya tidak betah tinggal berlama lama di dalamnya.
Kita pun sering mendengar berita bahwa pelaku seksual terhadap anak anak sering diperlakukan kasar dan mendapat kekerasan dari warga binaan lainnya yang kebetulan berada dalam satu sel.
Itu sebabnya yang membuat mereka ngeri untuk berada di dalam Lapas Medaeng yang berlokasi di Desa Medaeng Wetan, Kec. Waru, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur itu.
Orang yang mengaku memiliki ilmu metafisik atau yang kita sebut sebagai ilmu kanuragan, katanya bisa menghilang, ternyata akhirnya bisa dijebloskan ke dalam lapas Medaeng sekitar pkl. 01 dini hari waktu setempat.
Yang bersangkutan harus mendekam selama proses perkara selain karena ancaman hukumannya di atas 5 tahun, karena sikapnya yang tidak kooperatif, polisi pasti khawatir yang bersangkutan akan melarikan diri.
Perkaranya pasti akan segera ditangani kejaksaan negeri setempat karena tahapan penyidikan oleh kepolisian sudah selesai statu( P21) . Proses hukumnya akan melalui serangkaian persidangan dengan pendampingan oleh penasihat hukum atau beberapa penasehat hukum yang dipilih pihaknya atau yang ditunjuk pihak kepolisian sesuai dengan hukum acara pidana yang berlaku.
Soal berapa beratnya hukuman yang bakal dijatuhkan pihak Majelis Hakim pengadilan, penulis memperkirakan setidak tidaknya 15 tahun plus ⅓ hukuman pemberatan atau kumulasi hukuman 20 tahun, karena sebagai tokoh yang memberikan contoh buruk kepada publik, dan seberat beratnya hukuman mati atau seumur hidup seperti yang diberikan kepada pelaku kejahatan seksual di Jawa Barat sebelumnya.
“Berakit rakit ke hulu, berenang ketepian.. ,sakit sakit dahulu.. , susah susah dahulu.. , lalu kemudiaaan….., bersenang senaaang. ..” ini yang benar.
Jangan merubah syair Bang Haji Rhoma yang bagus itu menjadi: berenang ketepian.. , berakit rakit ke hulu.. , senang senang dahulu.., happy happy dahulu.., lalu kemudiaaan…., jadi sengsaraaa…. .,
kita melantunkannya juga jadi gak enak kan
Yaa nasi sudah menjadi bubur gak mungkin jadi nasi atau beras kembali. Panas setahun habis karena hujan sehari. Stitik nila rusak susu sebelanga, gara gara ulahnya lembaga pendidikan yang sudah banyak berjasa bagi umat pun tercemar dan terancam bubaaarrrr.









Komentar