Menggandeng PEKKA, Dosen dan Mahasiswa Unsika Olah Limbah Jadi Makanan Bergizi

Berita, Daerah226 views
Dosen dan mahasiswa Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Unsika di Desa Sukajaya Kecamatan Cilamaya Kulon Karawang menyosialisasikan produk unggulan PEKKA Kabupaten Karawang.

Karawang, Suryadinamika – Dosen dan mahasiswa Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) di Desa Sukajaya Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang menyosialisasikan produk unggulan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Kabupaten Karawang, Jum’at 5/9).

Pengabdian Dosen kepada masyarakat ini bertema “Pemberdayaan Kelompok PEKKA Karawang melalui pengembangan Produk Unggulan Berbasis Kearifan Lokal”.

Sejumlah produk dipamerkan dalam kegiatan ini, diantaranya Mie Caruka (Cangkang Rajungan Pekka–Unsika), mie kering dari limbah cangkang rajungan. Kemudian ada kripik tempe “Basiah” dari biji pohon trembesi.

“Basiah kepanjangan kata Siti Basiah, yakni nama lokal pohon biji trembesi,” ujar kader Pekka Desa Cadas Kertajaya, Sumini.

Sumini menjelaskan, limbah cangkang rajungan banyak didapati di Desa Sukajaya desa pesisir pantai Cilamaya.
Oleh masyarakat setempat limbah cangkang rajungan kerap dibuang atau diolah kembali. Limbah cangkang rajungan memiliki kandungan gizi lumayan tinggi dengan kadar air 10,16 persen, kadar abu 56,10 persen, lemak 2,88 persen, protein 12,90 persen, kalsium 10,12 mg / 100gr serta kandungan fosfor 2,67 mg/100gr.

Limbah cangkang rajungan selama ini dijadikan tepung cangkang rajungan, namun ini belum menjadi produk bernilai jual.

Kaitannya dengan produk tempe dan keripik basiah, bahwa pada Tahun 2022 lalu, Indonesia mengalami kelangkaan kedelai, banyak produsen tempe dan tahu berhenti produksi. Mengantisipasi ini, Pemerintah Indonesia melakukan impor kedelai, walau ada bahan lain subtitusi kedelai yakni biji trembesi yang kandungan proteinnya lebih tinggi dari kedelai.

Mie Caruka (Cangkang Rajungan Pekka–Unsika), mie kering dari limbah cangkang rajungan, dan Keripik tempe “Basiah” olahan dari biji pohon trembesi.

Pohon biji trembesi banyak dijumpai ditepian jalan untuk penghijauan kota, buahnya banyak berserakan ditepian jalan. Namun oleh orang awam, situasi ini tidak dimanfaatkan dan dibiarkan terbuang.

Menyikapi ini, tangan-tangan trampil di bidang makanan segera beraksi. Biji trembesi kemudian diolah dijadikan tempe dan kripik basiah sebagai makanan alternatif yang enak bergizi dan sehat.  Tempe dan kripik basiah kemudian dijadikan makanan jajanan khas Kabupaten Karawang.

Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Unsika, Fatimah Azzahra selaku Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengapresiasi soal ini dan antusias mendukung kegiatan Sustainable Development (pembangunan berkelanjutan ).

“Kegiatan ini mengandung makna SDGs peningkatan ekonomi, sosial, dan lingkungan berkelanjutan. Saya berharap, kegiatan ini bermanfaat bagi semua, terutama buat ibu-ibu yang dikenali paling dekat dengan soal makanan. Program ini menyiapkan ketersediaan lauk bergizi tinggi dan mudah didapat dengan harga terjangkau,” ucap Fatimah Zahra seraya menegaskan bahwa kegiatan dilakukan sangat bermanfaat kaitannya dengan pengelolaan lingkungan pemanfaatan limbah laut.

“Mie caruka dan keripik tempe basiah menjadi produk makanan ringan jajanan oleh- oleh khas Karawang. Produk masyarakat Karawang Aini diharapkan dapat berkembang pesat dan berdampak positif guna menstimulant taraf ekonomi keluarga ibu-ibu kelompok Pekka serta masyarakat Kabupaten Karawang secara luas.” Pungkas Fatimah.

Kegiatan ini didukung dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2025.

Mempedomani Gerakan “Diktisaintek Berdampak” diharapkan, kegiatan ini mampu menstimulant pemberdayaan dan kemandirian perempuan di desa khususnya di Kabupaten Karawang. (Pri)

Komentar