Tak Mau Dikasihani, Engkus Lawan Kemiskinan, Dari Gurandil, Ojek hingga Bangkit Lewat UMKM

program This Ability diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi penyandang disabilitas, bukan sekadar memberikan bantuan

Engkus Kusnadi, dengan motor modifikasinya saat bekerja mengantar penumpang/ SURYADINAMIKA/ist

BANDUNG — SURYA DINAMIKA.NET

Warga Cileunyi wetan Kabupaten Bandung, Engkus Kusnadi (47) memilih melawan keterbatasan dengan cara bekerja keras, dan bukan dengan meminta belas kasihan orang.

Penyandang disabilitas sekaligus Ketua Kelompok Hasna Mandiri itu pernah mempertaruhkan nyawa sebagai gurandil di lorong tambang emas liar, sebelum akhirnya ia bertahan hidup sebagai pengemudi ojek pangkalan dan mengembangkan usaha UMKM.

“Hidup teh ternyata ga susah-susah amat,” ujar Engkus.

Setiap hari, sejak pukul 05.00 WIB Engkus sudah mangkal di sebuah pertigaan tidak jauh dari rumahnya di Cileunyi Wetan, Bandung.

Ia melayani penumpang, terutama karyawan pabrik dan anak sekolah.

Penghasilan Engkus tidak menentu. Dalam sehari, ia paling sering hanya memperoleh Rp5 ribu hingga Rp20 ribu. Sesekali pendapatannya mencapai hingga Rp50 ribu. Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah.

Jauh sebelum menjadi tukang ojek, Engkus pernah bekerja sebagai gurandil pada awal 2000-an.

Keterbatasan fisik, kemiskinan, dan minimnya pendidikan membuatnya masuk ke dunia pertambangan emas liar.

Bersama kakaknya, Engkus masuk ke lubang tambang yang sempit dan berbahaya. Ia harus merangkak masuk ke lorong horizontal, kemudian turun secara vertikal menuju titik penambangan.

Persoalan oksigen menjadi ancaman serius. Para gurandil mengandalkan kipas besar yang dipasang di mulut lubang dan disambungkan menggunakan plastik tipis untuk mendorong udara segar ke dalam tambang.

Risiko semakin besar ketika Engkus harus keluar sambil membawa karung berisi sekitar 40 kilogram batuan yang mengandung urat kuarsa.

Pekerjaan itu dilakukan tanpa standar keselamatan kerja yang memadai.

Ancaman longsor, kekurangan oksigen hingga konflik antar kelompok menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi.

Engkus akhirnya memilih meninggalkan pekerjaan tersebut. Setelah menikah, ia beralih menjadi pengemudi ojek pangkalan.

Dengan modal terbatas, ia mencicil sebuah motor bebek empat tak berwarna perak.

Keterbatasan fisik membuatnya harus memodifikasi posisi duduk dengan menjejalkan kain dan jaket pada bagian tangki motor.

Ia juga sempat berkeinginan menjadi mitra ojek daring. Namun, persyaratan kendaraan matik atau motor keluaran terbaru menjadi penghalang. Meski demikian, Engkus tetap bekerja.

“Saya malu kalau ada orang yang ngasih ke saya karena saya disabilitas. Yang saya mau orang malah menjadi bangga ke saya. Saya ingin membuktikan, orang seperti kami juga mampu untuk mandiri,” ujarnya.

Perlahan, jalan menuju kemandirian terbuka setelah Engkus bergabung dalam Kelompok Hasna Mandiri yang mendapat pendampingan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melalui program This Ability.

Kelompok tersebut mengembangkan sejumlah produk UMKM, seperti kecimpring, keripik pisang dan wedang jahe. Produk dipasarkan secara daring, dititipkan di warung dan dijual di pasar setiap akhir pekan.

Pendampingan itu memberi dampak langsung terhadap kehidupan Engkus. Pendapatannya meningkat hingga ratusan persen.

Perubahan ekonomi tersebut terlihat dari kondisi rumah Engkus. Lantai rumah yang sebelumnya masih tanah kini sudah dikeramik.

Bagi Engkus, peningkatan itu bukan sekadar angka pendapatan. Ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Ia tak ingin dinilai karena kekurangannya, melainkan karena kemampuan dan hasil kerjanya.

Manager Communication, Relations, & CID Pertamina Regional Jawa Pinto Budi Bowo Laksono mengatakan, PHE ONWJ berkomitmen menciptakan ruang ekonomi yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

“Kami menyadari bahwa kawan-kawan penyandang disabilitas seringkali harus berhadapan dengan stigma sosial dan hambatan yang nyata dalam mengakses peluang ekonomi. Namun, di balik tantangan tersebut, kami melihat ada potensi, ketangguhan, dan semangat juang yang luar biasa,” kata Pinto.

Menurut dia, program This Ability diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi penyandang disabilitas, bukan sekadar memberikan bantuan.

Saat ini PHE ONWJ mendampingi 15 penyandang disabilitas, yang sebagian besar merupakan penyandang disabilitas mental dan tuna daksa.

Pendampingan dilakukan melalui pengembangan UMKM sekaligus pelatihan keterampilan baru.

Selain produk pangan, kelompok tersebut dibekali kemampuan membuat tumbler berbahan bambu dan memproduksi kertas daur ulang.

Program itu diharapkan membuka sumber pendapatan baru sekaligus mendorong penyandang disabilitas menjadi lebih mandiri secara ekonomi dan sosial.

Perjalanan Engkus menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan tidak selalu berujung ketergantungan. Ia pernah masuk ke lorong tambang demi bertahan hidup, kemudian mengayuh roda ekonomi dari atas motor, hingga kemudian membangun usaha bersama kelompok difabel.

Engkus tidak minta dikasihani. Ia memilih bekerja, berkarya, dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk mematikan kesempatan hidup.(Pri)

Komentar