Tak Mampu Biayai Servis, Mobil Desa Lemahkarya “Nambru” di Pinggir Jalan.

 

Karawang, |SDM| Sungguh memprihatinkan, sudah lebih dari 4 bulan mobil desa Lemahkarya dengan nomor polisi T 1418 F “nambru” di pinggir jalan raya Pasirkamuning- Tempuran.

Tempat itu merupakan halaman bengkel mobil di bilangan Pondokbales Tempuran milik Enas.

Enas, pemilik bengkel mengatakan, mobil tersebut sudah berada di bengkelnya sejak sebelum bulan puasa. Artinya, hingga saat ini sudah lebih dari empat bulan. Enas tidak bisa menyebutkan siapa orang yang mengantarkan mobil tersebut ke bengkelnya, yang jelas mobil  bertuliskan Desa Lemahkarya itu diantar seseorang ke bengkelnya untuk diperbaiki.

Mobil tersebut merupakan mobil milik pemerintah Kabupaten Karawang yang pengadaanya dibiayai APBD Kabupaten Karawang tahun 2011. Pengadaan mobil tersebut merupakan hasil perjuangan panjang para kepala desa saat itu,  kepada pemerintah Kabupaten Karawang.

Haji Muhtar, warga Karawang yang kebetulan singgah di bengkel tersebut menyayangkan sikap Kepala Desa Lemahkarya yang seakan-akan tidak peduli terhadap perawatan mobil itu.

“Itu kan dibeli dari duit rakyat, kenapa cuma dibebani pemeliharaan saja sudah tidak mampu, padahal saya juga warga satu desa, tau, kalau masyarakat pake mobil desa kan harus keluar uang juga, buat bensin lah, buat supir lah.?” Ujar Haji Muhtar yang mengaku mau mancing ke Ciparagejaya (23/7).

Tatang sebagai Ketua BPD Lemahkarya ketika diminta pendapatnya tentang itu,  menjawab chat WA wartawan, menulis singkat, “udah beritakeun Weh”. tulisnya.

Bahkan Tatang juga menilai, tindakan yang dilakukan Kades Nita merupakan indikasi kurang tajamnya pengaruh pejabat di atas kades, kepada para kades.

“Para kades kan binaannya, jadi kalau begitu ya pejabat di atas Kades itu yang tumpul,” ucapnya (22/7).

Camat Tempuran M. Komarudin FR, SE, Kp, MM, ketika dikonfirmasi wartawan melalui chat WAnya, Jum’at sore (22/7), beliau menulis singkat “terima kasih atas informasinya.”

Enas, pemilik bengkel, ketika dikonfirmasi ulang wartawan, membenarkan bahwa mobil itu diantakan ke bengkelnya dalam keadaan mati, dan harus bongkar mesin. Sampai hari ini pihak pemilik mobil belum memberikan uang sepeserpun.

“Jangan kan uang untuk beli alat yang harus diganti, yang diperkirakan sekitar 6 jutaan, buat ongkos bongkar pun nggak.” Ucap Enas (23/7).

“Mobil kan udah empat bulan lebih ada di sini, sudah lebih tiga bulan, saya nggak bertanggungjawab lagi. Itu kan di pinggir jalan raya, kalau ada yang hilang, itu bukan tanggungjawab saya lagi. Sedangkan sekarang kan banyak orang yang berkeliaran cari besi rongsokan,” sambunganya.(red)