
Yogyakarta, SURYADINAMIKA.NET- Di sebuah siang yang hangat di Jogobayan, Kalibawang, Kulon Progo, Minggu (14/6/2026), belasan perempuan anggota Kelompok Karisma duduk berdampingan dengan mahasiswa dari Yogyakarta, menyaksikan layar yang menampilkan keseharian mereka sendiri. Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2023 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar screening film dokumenter berjudul Napas Tanah Karisma sebagai bagian dari rangkaian tugas akhir semester yang mengangkat potensi desa dan isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Film berdurasi sekitar 10 menit yang diproduksi Kelompok Kinanti itu mengisahkan perjuangan Kelompok Karisma mempertahankan praktik pertanian organik, di tengah menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang. Bagi mahasiswa, karya ini bukan sekadar pemenuhan nilai akademik, melainkan juga upaya mengembalikan hasil kerja mereka kepada masyarakat yang selama proses produksi telah membuka pintu dan keseharian mereka untuk direkam.
Sutradara film, Imtiyaz Allam Nashr, menuturkan bahwa tim sempat berniat mengangkat isu pertanian yang lebih luas. Namun keterbatasan durasi membuat mereka akhirnya memfokuskan cerita pada pengalaman Karisma mengembangkan pertanian organik.
“Awalnya kami mengangkat isu yang lebih berat, tetapi karena keterbatasan durasi akhirnya kami menyesuaikan kembali fokus ceritanya. Alhamdulillah, film ini juga mendapat predikat film terbaik pertama dari enam kelompok yang ada,” ujar Iyaz.
Iyaz menambahkan, screening menjadi momentum penting untuk mengembalikan hasil kerja mahasiswa kepada masyarakat yang menjadi bagian dari proses produksi. Melalui kegiatan itu, warga dapat melihat langsung bagaimana pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki diterjemahkan ke dalam bentuk dokumenter.
Acara berlangsung dalam suasana hangat dan akrab. Sekitar 14 anggota Karisma dan 15 mahasiswa mengikuti pemutaran film hingga sesi diskusi. Para peserta tampak antusias menanggapi film yang menampilkan aktivitas mereka sehari-hari dalam mengelola pertanian organik, sebuah pengalaman yang bagi sebagian dari mereka baru pertama kali disaksikan dalam bentuk audiovisual.
Dosen pembimbing, Evi Septiani, mengapresiasi keterbukaan anggota Karisma yang telah menerima mahasiswa selama proses produksi berlangsung. Menurutnya, pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa.
“Terima kasih kepada ibu-ibu yang sudah mengizinkan mahasiswa kami belajar dan membuat film di sini. Saya juga sangat terinspirasi oleh semangat yang terus digaungkan Karisma untuk melestarikan pertanian organik,” kata Evi.
Pandangan senada disampaikan dosen pembimbing lainnya, Sinung Restendy. Ia menilai kedekatan yang terbangun antara mahasiswa dan warga membuat proses produksi berjalan lebih alami, sehingga keseharian anggota Karisma dapat terekam secara autentik dalam film.
“Proses pembuatan film ini membutuhkan waktu beberapa hari dan melewati berbagai tantangan. Karena ibu-ibu menerima mahasiswa dengan baik, keseharian yang terekam dalam film menjadi sangat natural,” ujar Sinung.
Salah satu anggota Kelompok Kinanti, Agna Niha Azzahra, menjelaskan bahwa film tersebut diangkat untuk menghadirkan suara perempuan-perempuan Karisma, kelompok yang menurutnya selama ini kerap terpinggirkan dari ruang publik. Lewat film ini, ia berharap perjuangan mereka dapat dikenal lebih luas, sekaligus membuka ruang bagi anggota Karisma untuk menyuarakan gagasan dan pengalamannya sendiri dalam menggaungkan praktik pertanian lestari.
Agna mengakui, tantangan terbesar selama proses produksi adalah membangun kedekatan dan kepercayaan dengan Kelompok Karisma. Sebagian besar anggotanya merupakan ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SMP hingga SMA, dan beberapa di antaranya pernah mengalami pengawasan intel saat menjalankan aktivitas kelompok. Karena itu, proses pendekatan membutuhkan waktu yang tidak singkat agar mereka merasa aman dan nyaman berbagi cerita di depan kamera.
“Kami berharap film ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa tanah juga perlu dirawat dan dijaga. Tanah adalah sumber kehidupan, sebagaimana seorang ibu yang merawat dan memberi kehidupan kepada anak-anaknya. Jika manusia terus mengeksploitasi tanah tanpa memikirkan keberlanjutannya, maka yang akan hilang bukan hanya kesuburan tanah, tetapi juga masa depan generasi berikutnya,” kata Agna.
Setelah sesi diskusi berakhir, suasana berlanjut lebih cair. Mahasiswa dan anggota Karisma membaur sambil menikmati hidangan pangan lokal yang disiapkan warga, momen sederhana yang menegaskan kembali kedekatan yang telah terbangun sejak masa produksi film.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi penutup tugas akademik yang sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat. Sementara bagi Karisma, film Napas Tanah Karisma menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan praktik pertanian lestari yang mereka jalani kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mengingatkan bahwa keberlangsungan tanah pada akhirnya menjadi keberlangsungan kehidupan itu sendiri.
Khabiburahman













Komentar