
BEIJING CHONGQING –
SURYA DINAMIKA.NET
Sebanyak 20 alumni Indonesia lulusan berbagai universitas di Tiongkok mengikuti Academic and Cultural Exchange Visit di Beijing dan Chongqing, 10–16 Oktober 2026.
Kunjungan ini menjadi ajang memperkuat hubungan Indonesia–Tiongkok sekaligus menjajaki peluang kerja sama di bidang pendidikan, teknologi, riset, dan inovasi.
Delegasi terdiri atas akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, tokoh organisasi keagamaan, serta profesional dari berbagai sektor.
Berbekal pengalaman akademik dan jejaring profesional di kedua negara, para alumni diharapkan mampu menjembatani pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kolaborasi yang berdampak bagi Indonesia.
Salah satu agenda utama di Beijing adalah pertemuan dengan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi menyerahkan dua karya literatur yang merekam perjalanan hubungan Indonesia–Tiongkok, mulai dari perspektif sejarah hingga arah kemitraan masa depan.
Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman lintas budaya dan memperluas hubungan kedua negara.
Selain melalui jalur diplomasi formal, hubungan bilateral juga dapat diperkuat melalui pertukaran gagasan, pengalaman, dan interaksi langsung antarmasyarakat.
Agenda berlanjut di Chongqing melalui jamuan makan malam bersama Direktur Jenderal Foreign Affairs Office of Chongqing Municipality (FAO Chongqing), Fan Qing.
Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk bertukar pandangan mengenai penguatan persahabatan dan peluang kerja sama Indonesia–Tiongkok, khususnya di bidang pendidikan, teknologi, penelitian, dan inovasi.
Di tengah percepatan transformasi digital, sejumlah bidang dinilai berpotensi dikembangkan bersama, antara lain kemitraan antarlembaga pendidikan, mobilitas akademik, pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, serta pengembangan sumber daya manusia.
Pertemuan ini sekaligus memperluas jejaring internasional yang dapat ditindaklanjuti melalui program kolaborasi konkret.
Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan komunikasi dan penjajakan awal menjadi kemitraan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Salah satu delegasi, Pendiri Protean Institute sekaligus Ketua Tim Double Degree UIN Sunan Kalijaga, Moh. Khoerul Anwar, turut menjajaki peluang kerja sama pendidikan dengan pihak Tiongkok.
Dalam kunjungannya, Khoerul berdiskusi langsung dengan Direktur Divisi Urusan Asia, Li Lan, mengenai peluang kolaborasi di bidang pendidikan vokasi, penelitian, program double degree, dan pengembangan kemitraan akademik.
Diskusi tersebut membuka ruang penjajakan kerja sama untuk memperkuat kapasitas institusi pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Peluang kolaborasi mencakup pertukaran pengetahuan, pengembangan program akademik bersama, kemitraan antarkampus, serta pertukaran mahasiswa dan dosen.
Penelitian bersama juga menjadi salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan guna memperkuat kompetensi akademik dan menjawab kebutuhan dunia kerja.
Bagi Khoerul, jejaring internasional merupakan peluang untuk menghubungkan pengalaman akademik dengan kebutuhan pengembangan institusi pendidikan di Indonesia.
Kerja sama lintas negara diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengalaman, tetapi berlanjut menjadi program pendidikan yang terukur, relevan dengan perkembangan teknologi, dan mampu meningkatkan daya saing sumber daya manusia.
Sebanyak 20 delegasi yang mengikuti kunjungan ini berasal dari beragam latar belakang profesional dan kelembagaan.
Di antara delegasi tersebut adalah Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang sekaligus Ketua PBNU KH Imron Hamid; Kepala Buperta Pramuka Budy Sugandi; Direktur SINO Nusantara Institute Syaifudin Zuhri; Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus pengurus PP Muhammadiyah Muhammad Aziz, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arafat Febriandirza serta Pendiri Protea#n Institute sekaligus Ketua Tim Double Degree UIN Sunan Kalijaga, Moh. Khoerul Anwar.
Keberagaman latar belakang tersebut menjadi modal untuk membangun kolaborasi lintas sektor.
Pertemuan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, dan tokoh masyarakat membuka peluang pertukaran perspektif serta memperluas kerja sama di luar batas kelembagaan masing-masing.
Dengan jejaring yang telah terbentuk, para delegasi memiliki peluang untuk mendorong kemitraan yang menghubungkan kebutuhan Indonesia dengan pengalaman dan perkembangan di Tiongkok.
Selama tujuh hari, delegasi mengunjungi Beijing dan Chongqing untuk mengenal lebih dekat dinamika diplomasi, perkembangan ekonomi, serta peluang kerja sama di kedua kota tersebut.
Beijing memberikan ruang interaksi dengan unsur diplomasi Tiongkok, sedangkan kunjungan ke Chongqing memperluas perspektif delegasi mengenai peluang pengembangan hubungan internasional dan kolaborasi lintas sektor.
Kunjungan ini menegaskan pentingnya menjaga dan mengembangkan jejaring yang terbentuk melalui pendidikan internasional.
Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh akan memiliki nilai strategis apabila ditindaklanjuti melalui kemitraan, pertukaran keahlian, penelitian bersama, serta program pendidikan yang terukur.
Ukuran keberhasilan kegiatan semacam ini tidak hanya terletak pada pertemuan yang terlaksana, tetapi juga pada tindak lanjut yang mampu menghasilkan kerja sama berkelanjutan.
Melalui diplomasi akademik dan pertukaran budaya, jejaring alumni Indonesia– Tiongkok berpeluang menjadi penghubung pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Langkah selanjutnya adalah memastikan peluang yang telah dijajaki berkembang menjadi program konkret yang memberikan manfaat bagi pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan kemajuan kedua negara.(Mochammad Sinung Restendy)










Komentar