
YOGYAKARTA – SURYADINAMIKA.NET
Yayasan Karir Protean Indonesia melalui Lembaga Kursus dan Pelatihan Protean Institute menggelar Pelatihan Konselor Keluarga Utama (KKU) di Grha PBMTI, Yogyakarta, Selasa (8/9/2026).
Pelatihan tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas peserta dalam memahami konseling keluarga sekaligus meningkatkan kemampuan pendamping dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga dan sosial.
Instruktur Protean Institute, Anggi Jatmiko, M.A., membekali peserta dengan materi kontrak belajar, batas peran, serta kesiapan menjadi pendamping keluarga.
Akademisi dan praktisi konseling sekaligus Pendiri Protean Institute, Moh. Khoerul Anwar, Ph.D., memaparkan konsep dasar konseling keluarga dan dinamika hubungan dalam keluarga.
Menurutnya, konseling keluarga merupakan proses bantuan profesional untuk memperbaiki pola interaksi, komunikasi, pembagian peran, serta kemampuan keluarga dalam menyelesaikan masalah.
Materi kemudian diarahkan pada pemahaman berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan keluarga.
Peserta didorong memahami batas kewenangan dan pentingnya pendampingan yang tepat agar persoalan keluarga tidak ditangani secara keliru.
Ketua Umum Perhimpunan BMT Indonesia, Dra. Mursida Rambe, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Prof. Dr. Waryono Abdul Ghafur, menyampaikan materi bertema “Kebijakan dan Penguatan Peran Keluarga dalam Pemberdayaan Sosial-Keagamaan.”
Waryono menyoroti tiga krisis yang dapat memengaruhi keluarga maupun lembaga, yakni krisis keteladanan,krisis kedekatan, dan krisis orientasi.
Krisis keteladanan berkaitan dengan sulitnya menemukan sekaligus memberikan teladan. Krisis kedekatan muncul ketika hubungan antarindividu tidak terbangun secara hangat.
Sedangkan krisis orientasi terjadi ketika seseorang atau lembaga kehilangan kejelasan mengenai identitas, arah, dan tujuan.
“Ada tiga jenis krisis: krisis keteladanan, krisis kedekatan, dan krisis orientasi,” ujar Waryono.

Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas konselor keluarga berkaitan erat dengan upaya menghadapi persoalan sosial, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Menurut Andayani, keberadaan lembaga keuangan mikro seperti BMT memiliki peluang dalam pemberdayaan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan penghimpunan dana yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung masyarakat.
“Training konselor utama keluarga hari ini menjadi bagian penting untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita tersebut,” katanya.
Pelatihan diikuti 15 peserta dari berbagai lembaga BMT dan sejumlah daerah di Indonesia, antara lain Daerah Istimewa Yogyakarta, Wonogiri, Cirebon, Lampung, Wonosobo, Pati, Kendal, Boyolali, Sukoharjo, Purworejo, Sragen, dan Karanganyar.
Pelatihan ditutup dengan peneguhan komitmen dan kesepakatan peserta. Program berikutnya akan dilanjutkan secara daring dengan materi asesmen sederhana keluarga, etika pendampingan, batas kewenangan, serta prinsip pendampingan keluarga.
Melalui Program Konselor Keluarga Utama, Protean Institute menempatkan peningkatan kompetensi pendamping sebagai bagian penting dalam memperkuat ketahanan keluarga sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat.(M.Sinung Restendy / Alya Sofi/Umaya)










Komentar